INSOMNIA
Insomnia atau sulit tidur menimpa 1 dari 10 orang di Amerika.
Insomnia bisa berupa mata tak terpejam sepanjang malam, terbangun di tengah lelapnya tidur dan sulit tidur kembali, terbangun beberapa kali,
bangun terlalu dini, atau tidak merasa bugar setelah bangun tidur.
Masih ada insomnia kronis sebagai yang terparah, karena penderita nya selama sebulan atau lebih, tidak bisa tidur pada sebagian besar malam.
Ada pula insomnia jangka pendek, sulit tidur 2-4 minggu, dan insomnia transient yang berlangsung beberapa hari.
Meski demikian, sebenarnya hanya 30% penderita insomnia yang benar-benar terganggu.
Insomnia bisa terjadi karena kondisi kejiwaan seperti stress atau gangguan fisik di sekitarnya.
Tidur siang berlebihan juga membuat mata terjaga sepanjang malam. Tidur siang sebenarnya tidak diperlukan.
Hormon Melatonin yang dikeluarkan kelenjar Pineal adalah jam alamiah bagi tubuh.
Hormon ini mulai mengalir ketika sinar matahari mulai redup. Kehadiran hormon melatonin di dalam tubuh memerintahkan istirahat.
Di siang hari, hormon tak diproduksi.
Lingkungan fisik bisa berupa suara bising di dekat tempat tinggal, misalnya bunyi mesin pabrik atau kereta api yang melintas.
Suhu lingkungan yang terlalu panas atau dingin, demikian pula perubahan suasana lingkungan, bisa menimbulkan gangguan tidur.
Terlalu banyak minum kopi atau minuman berkafein, mengisap rokok, atau minum minuman beralkohol menjelang tidur, dapat memicu insomnia.
Kafein dapat meningkatkan denyut jantung, alkohol menguras vitamin B yang mendukung sistem saraf, dan nikotin bersifat Neurostimulan yang justru membangkitkan semangat.
Dampak serius insomnia adalah turunnya produktivitas. Penderita insomnia sering mengantuk di siang hari dan tidak dapat memusatkan perhatian pada hal-hal detail. Mereka tidak dapat memberikan pertimbangan untuk mengatasi masalah.
Orang insomnia juga sering lupa, bahkan hal yang baru saja dialami.
Tubuh lelah akibat tidak tidur semalaman membuat penderita insomnia mudah terusik.
Hal-hal kecil dapat menimbulkan kemarahan karena penderita insomnia menjadi pribadi yang sensitif.
Tanpa ada upaya mengatasinya, insomnia benar-benar dapat merupakan siksaan bagi penderitanya sendiri dan lingkungan.
ASUPAN GIZI
Diperlukan asupan gizi (Magnesium dan Kalsium) yang cukup jumlahnya untuk menangkal insomnia.
Defisiensi magnesium dan kalsium menyebabkan tidur tidak nyenyak. Sebenarnya fungsi magnesium adalah merelaksasi otot.
Apabila otot kaku, timbul rasa ngilu-ngilu yang membuat badan terasa sakit.
Kalsium yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan tulang juga dimanfaatkan untuk menenangkan pikiran.
Kalsium berdampak Calming Effect. Jadi, kondisi kecemasan atau stress dapat dikurangi dengan magnesium dan kalsium.
Hormon melatonin bermanfaat membuat tidur lebih nyenyak.
Saat ini sudah ada produk suplemen yang mengkombinasikan magnesium, kalsium dan melatonin.
Vitamin B kompleks dapat membantu penderita insomniai karena mendorong tercapainya kondisi istirahat.
Diet sehari-hari juga perlu diperhatikan. Konsumsi karbohidrat kompleks seperti roti, crackers atau bagel dapat membantu tidur Anda.
Lawan dari karbohidrat kompleks adalah karbohidrat sederhana seperti gula.
Mengapa karbohidrat kompleks bermanfaat?
Karena ternyata zat gizi tersebut dapat memacu pengeluaran Serotonin, yaitu suatu neurotransmitter otak yang merangsang rasa kantuk.
Segelas susu hangat dan madu menjadi obat mujarab agar lelap tidur.
Susu banyak mengandung Asam Amino Triptofan yang dapat membantu pengeluaran serotonin sehingga memudahkan tidur.
Triptofan juga memacu pengeluaran hormon melatonin.
Suplemen Triptofan pernah dilarang di AS, karena produknya dapat menyebabkan gangguan darah serius karena produknya terkontaminasi.
Namun tidak ada resiko bagi orang-orang yang mau mengkonsumsi bahan makanan kaya triptofan, seperti susu atau daging kalkun sebagai upaya mengurangi insomnia.
Orang-orang yang sulit tidur disarankan makan lettuce di malam hari.
Lettuce mengandung substansi terkait opium yang mempercepat kantuk, dan mengandung Hyoscyarnin yang bersifat antikram.
Makan malam juga hendaknya menyertakan kacang-kacangan dan ikan atau daging ayam.
Jenis-jenis itu kaya akan Niasin (Vitamin B3) yang membantu pengeluaran Serotonin.
Makanan yang harus dihindari adalah makanan dengan bumbu menyengat, kafein, alcohol, karbohidrat sederhana (gula, syrup),
makanan berpengawet dan makanan kaleng.
Gula dan sirup bersifat meningkatkan gula darah dan penghasil energi yang cepat sehingga mengganggu tidur.
Makanan berprotein tinggi seperti daging sapi dapat mencegah produksi serotonin sehingga tubuh terjaga terus menerus.
Monosodium Glutamate (MSG) sebaiknya dihindari karena memunculkan reaksi stimulant.
Menghindari keju, coklat, sayur bayam dan tomat menjelang tidur juga dianjurkan.
Semua itu mengandung Tyramin yang merangsang keluarnya Norepinerphine sehingga otak terjaga.